Tampilkan postingan dengan label SMAN 1 Leupung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMAN 1 Leupung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

The Last Day At 10th Grade of SMAN 1 Leupung (III)


Lanjutan kesan pesan dari anak-anak kelas X SMAN 1 Leupung ^_^ cekidot!!!

10. Terima kasih bu ya? Karena Ibu telah mengajari kami selama kami belajar di kelas ini. Dan kami juga minta maaf mungkin ada kesalahan dari kami ataupun tingkah laku kami yang tidak baik. Kami minta maaf Bu. Walaupun kami gak bisa Ibu selalu mengajari kami hingga sampai kami bisa. --> dari XXXX ga bisa nebak tulisannya ◔_◔...  Semangat ya guys!!! Selalu berusaha dan berdoa!^_^

11. Terimakasih ya Bu atas semua yang telah Ibu berikan kepada saya dan atas semua ilmu yang sngat sangat ikhlas ibu berikan kepada saya. Saya mohon maaf terkadang ada kata-kata saya yang salah keapada Ibu, tolong domaafin ya Bu? Mungkin ada suatu kesalahan saya yang mengecewakan Ibu tolong dimaafkan. Mudah-mudahan semester depan Ibu bisa mengajarkan kami dengan memberi ilmu kepada kami lebih banyak lagi. Dan kami bisa belajar dengan Ibu lagi, kami sangat nyaman belajar dengan Ibu. Hanya ini uneg-uneg saya yang dapat saya sampaikan kepada Ibu. Sekali lagi saya mohon maaf. Apa yang Ibu berikan kepada saya, saya akan ingkatkan selalau. --> Dari NURLAILI, kyknya sih ◔_◔ ... heehehe Belajar yang rajin ya.. Kalo ktm di kelas XI nanti, mudah2an sudah lancar berhitungnya ^__^

The Last Day At 10th Grade of SMAN 1 Leupung (II)


ini lanjutan pesan dan kesan anak-anak kelas X SMAN 1 Leupung. Cekidot!!!

5. Saya minta maaf kalau ada kesalahan saya ya Ibu! Saya amohon pamit mau naik kelas 2 semoga Ibu lebih baik lagi mengajar anak-anak yg akan datang nanti. Saya ingin nilai saya matematika memuaskan saat  semseter II nanti. Pertama-data dan yang paling utaa saya pamid dulu ea bu? saya akan lebih baik dri sekarang dan seterusnya.Terimakasih. Wassalam. Semoga Ibu sehat dan panjang umur. Aamiin --> Tulisan salah satu dari Si Kembar dan AMAL ●_● Selalu perbaiki diri ya Guys ^_^ semangat! jangan bandel lagi. Ukee?!
6. Assalamu'alaikum wr.wb. Ibu, saya mohon maf ya, Mungkin di saat Ibu mengajar kami bikin ribut, enggak memperhatikan Ibu. Kami mohon maf ya. ibu dengan kami ngga ada yang salah kok malahan kami yang selalu menyakiti Ibu. selama ibu ngajar fitri senang kok. Walaupun Fitri kadang-kadang ngga ngerti apa yang Ibu jelaskan di papan tulis tapi Fitri salut sama Ibu walaupun kami tidak mengerti tapi ibu berusaha dengan sangat keras supaya kami menjadi bisa/mengerti. Sekali lagi Fitri mengucapkan banyak terima kasih sama Ibu atas semua yang Ibu ajari kepada kami karena ketulusan hati seorang Ibu tidak bisa dibalas dengan emas atau perak. karena kasih sayang seorang ibu tanpa tanda jasa. Terimakasih ya Ibu buat semuanya.. --> FITRIANI ◕‿◕ Fitri rajin belajar ya.. ^___^

The Last Day At 10th Grade of SMAN 1 Leupung

Rabu, 29 Mei 2013 merupakan hari terakhir saya mengajar di kelas X SMAN 1 Leupung. Karena minggu depan mereka sudah mengikuti Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013. Kemungkinan juga saya tidak mengajar kelas mereka lagi ●︿●. Di hari terakhir ini saya menyampaikan permintaan maaf saya kepada mereka, guru kan juga manusia dan setiap manusia selalu tak luput dari yang namanya kesalahan. Pasti saya pernah berbuat salah kepada mereka. Ntah itu saat saya marah, ngomel-ngomel di kelas, teriak-teriak di hadapan mereka, dan mungkin saja ngomongin tingkah laku mereka dengan orang-orang di sekitar saya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada mereka, banyak pelajaran yang saya peroleh dari mereka. Karena di kelas, selain saya mengajari mereka, saya juga belajar dari mereka. Belajar arti hidup dan belajar memanajemen kesabaran saya ◠‿◠. Terima kasih banyak guys!

Minggu, 19 Mei 2013

Semoga mereka LULUS ^_^

Kemarin saya diajak berbincang-bincang dengan kepsek tentang tingkat kelulusan siswa tahun 2013. Beliau mendengar dari salah satu orang dinas pendidikan bahwa di tingkat nasional, siswa yang dinyatakan lulus hanya 50% ↯⎵↯ Kata Beliau, mungkin saja 50% siswa yang tidak lulus UN ini adalah siswa kami, siswa SMA Negeri 1 Leupung ╥﹏╥
Melihat proses mereka selama mempersiapkan UN 2013 ini, sangat khawatir mereka masuk ke dalam daftar siswa yang tidak dinyatakan LULUS ╥﹏╥. Dari 3 kali mereka mengikuti Try Out yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Besar dan Unsyiah, tidak ada satupun siswa yang dinyatakan LULUS karena nilai mereka sangat sangat rendah. Khawatir. Khawatir sekali melihat kondisi yang seperti ini. Apalagi beberapa minggu menjelang UN, semangat mereka untuk belajar malah semakin menurun. Bukannya masuk kelas setiap hari dan latihan soal-soal Ujian Nasional, yang mereka lakukan justru membolos, dan bermain di luar kelas sesuka hati.
Apapun yang sudah terjadi, saya sangat mengharapkan mereka LULUS dengan nilai yang maksimal ツ. Kelulusan yang mereka peroleh semoga dapat mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik. Ngga tau gimana rasanya jika melihat mereka masuk ke dalam daftar siswa-siswa yang tidak lulus UN 2013. Pasti rasanya sedih. Kecewa dan kasihan melihat mereka gagal ╥﹏╥.
Allah... selalu beri yang terbaik untuk kami ya.. untuk siswa-siwa yang saya sayangi ♥♥♥

Selasa, 14 Mei 2013

Pengen Nyerah...!!!

Hari ini, saya mengadakan ulangan harian materi Ruang Dimensi Tiga untuk kelas X di SMAN 1 Leupung. Soal ulangan kali ini sengaja saya buat berbeda dari soal-soal ulangan harian sebelumnya. Untuk ulangan harian sebelumnya, soal-soalnya saya buat paket, kadang sampai 8 paket. Tapi untuk ulangan kali ini saya buat 1 paket soal, yang saya tampilkan di slide. Tiap slide ada satu soal. Untuk mengerjakan soal tersebut saya beri waktu 5 - 10 menit.
Pada saat persiapan ulangan harian, ada dua siswa yang selalu bikin ulah. Mereka kembar identik. Bukan hanya sama di fisik saja, sikap mereka berdua pun sama-sama membangkang guru. Karena ulah dia, saya jadi kesel. Siapa yang ga kesel, saat saya (sebagai pendidik) sedang berbicara di depan kelas, mereka ribut sendiri dan tidak menghormati keberadaan saya. Mungkin karena faktor usia saya yang juga masih "labil", saya pun cepat sekali jengkel. Saat itu saya suruh mereka keluar. Mereka ga dengar, tetap saja duduk di bangku mereka. Saya perintahkan sekali lagi, mereka juga masih tetap diam. Akhirya saya teriak di depan mereka dengan suara keras (sangat keras), "KELUAAAAAAR". Apa yang terjadi? Mereka masih tetap duduk di bangkunya. Seolah-olah mereka tidak pernah berbuat salah.
Karena hal itu, saya bicara dengan teman-teman mereka bahwa saya tidak akan masuk kelas mereka jika si kembar berada di dalam kelas. Sakit hati. Saya sangat sakit hati trehadap mereka yang tidak punya sikap sopan santun, mengahargai orang yang lebih tua, dan tentu saja selalu membantah perintah serta tidak mau mengikuti peraturan yang ada. Saya tau, sikap saya yg seperti ini kurang tepat bahkan salah. Tapi saya juga ngga ngerti harus bagaimana menangani si kembar yang sikapnya selalu seperti itu dengan guru-guru. -___-
Setelah kasus si kembar, ternyata anak-anak kelas X pada ga bisa ngerjain soal ulangan yang saya berikan. Semuanya dapat nilai dibawah 50. Kesel pake BANGET! Padahal soal yang saya berikan adalah soal yang sangat sangat dan sangaaaaaaaaaaaaaat gampang!!! Semua soal ada di catatan mereka dan sudah saya terangkan. Bedanya hanya pada angka. Kesel rasanya melihat mereka ngga bisa mengerjakan soal dari saya. Apa saya yang ngga bisa memberi penjelasan ke mereka? Saya merasa GAGAL TOTAL. Sebagai seorang pendidik tentunya sangat sedih melihat nilai mereka yang sangat jelek dan melihat karakter mereka yg masih jauh dari kata "baik".
Menjadi seorang pendidik adalah impian saya. Namun, jika seperti ini keadaannya, rasanya ingin menyerah. Ya Allah...! Apakah saya harus menghentikan impian saya untuk menjadi seorang pendidik? Saya ngga sanggup... :'(

Jumat, 26 April 2013

Place of My Dedication, Leupung

      Senja di hari ke-12 bulan ke-10 tahun 2012, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya saya sampai di daerah pengabdian SM-3T, di kecamatan Leupung. Leupung merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Aceh Besar, yang menjadi daerah sasaran pelaksanaan program SM-3T. Wilayah Leupung pada umumnya terletak di pesisir pantai.


Pemandangan yang berada di sekitar jalan menuju kecamatan Leupung.
          Saya ditugaskan untuk mengabdi di SMA Negeri 1 Leupung, satu-satunya Sekolah Menengah Atas yang berada di Kecamatan Leupung. SMA Negeri 1 Leupung terletak di Jalan Banda Aceh – Meulaboh KM 18 Gampong Deah Mamplam, yang merupakan pintu gerbang masuk wilayah Leupung dari kota Banda Aceh. Sebelum tragedi Tsunami Aceh, sekolah ini terletak di pinggir pantai. Pasca Tsuanmi, sekolah direlokasikan di daerah perbukitan. Jumlah siswa di sekolah ini hanya 56 dengan 3 ruang kelas, yakni 17 siswa di kelas X, 19 siswa di kelas XI IPA, dan 20 siswa kelas XII IPA.

Gerbang Depan SMA Negeri 1 Leupung yang terletak di gampong Deah Mamplam Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar.
           Sebagian besar siswa yang belajar di SMA Negeri 1 Leupung sudah tidak mempunyai orang tua karena orang tua dan keluarga mereka menjadi korban keganasan Tsunami. Oleh sebab itu karakter dan motivasi yang mereka mereka miliki sangat rendah, tidak seperti anak-anak lainnya yang masih mempunyai keluarga yang membimbing dan memotivasi mereka. Tugas mendidik di wilayah yang seperti itu memang tidak mudah. Banyak tantangan yang harus saya hadapi. Misalnya, ketika saya sudah mempersiapkan materi yang akan saya diskusikan dengan siswa ternyata setelah sampai di kelas, siswa yang hadir hanya 5-7 orang. Ini salah satu hal yang membuat saya harus tetap bersabar dan selalu semangat dalam memberi ilmu untuk mereka.
Suasana ruang kelas saat akan belajar. Hanya ada 7 siswa dalam 1 ruangan.
         Siswa-sisiwi di SMA Negeri 1 Leupung sebagian besar memang mempunyai motivasi yang rendah terhadap kegiatan belajar. Namun di balik itu, mereka mempunyai bakat non akademik, salah satunya di bidang seni, yakni kesenian Rebana dan merangkai bunga.
Rangkaian bunga yang dibuat oleh para siswi kelas XII SMA 1 Leupung
           Rangkaian bunga yang mereka buat, kini berada di sudut ruang kantor guru. Sebagai hiasan sekaligus menunjukkan kepada tamu yang berkunjung ke SMA Negeri 1 Leupung, bahwa di sekolah yang terpencil ini memiliki siswi-siswi yang kreatif. Ya, soal merangkai bunga, siswi-siswi di SMA Negeri 1 Leupung memang jago. Rangkaian bunga di atas terbuat dari bekas gelas air mineral. Gelas air mineral tersebut dipotong-potong membentuk sebuah bunga, kemudian dilapisi cat. Mereka memang memiliki keterammpilan seni yang sangat baik. Memanfaatkan bekas gelas air mineral yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang sangat indah dan menarik.

Penampilan Grup Rebana SMA Negeri 1 Leupung saat Peringatan
Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Negeri 1 Leupung.
         Setelah melakukan latihan selama beberapa hari, akhirnya mereka bisa memberikan penampilan yang maksimal di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Negeri 1 Leupung. Mereka membawakan lagu Muhammad, Perdamaian, dan Jilbab Putih. Para tamu undangan, Bapak Ibu Guru, serta seluruh siswa memberikan apresiasi yang tinggi atas penampilan mereka.
         Hal ini menyadarkan saya, bahwa setiap anak memang mempunyai bakat yang berbeda-beda. Tidak semua anak memiliki minat dan bakat dalam bidang akademik, ada beberapa di antara mereka yang lebih menyukai seni, olah raga, ataupun bidang lainnya. Apalagi kondisi lingkungan di Leupung, yang dekat dengan pesisir, memberikan pengaruh terhadap bakat dan minat mereka. Sebagai pendidik, saya tidak bisa memaksa mereka HARUS BISA atau HARUS SUKA terhadap pelajaran di sekolah. Yang bisa saya lakukan adalah memberikan mereka motivasi untuk terus belajar.    
          Beberapa hari yang lalu saya main ke rumah salah satu siswi kelas XII yang belajar di SMA Negeri 1 Leupung. Kebetulan, hari itu hari Minggu, dia sedang membantu orang tuanya menjajakan ikan asin di pinggir jalan. Saya pun pergi ke lapak orang tuanya (saat itu di sana hanya ada Ibu dia yang sedang membersihkan ikan teri yang sudah kering), saya berbincang-bincang dengan si Ibu. Berdasarkan informasi yang saya terima, di daerah Leupung sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan dan penjual hasil laut. Jika sang suami bertugas mencari ikan dan membersihkan ikan, maka sang istri dan anak mereka mempunyai tugas menjemur ikan asin dan menjajakannya di lapak-lapak pinggir jalan. Lapak ikan asin ini buka sertiap hari dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 22.00. Hari Minggu adalah hari keberuntungan mereka, karena banyak penduduk kota berwisata di Pantai Leupung dan mampir membeli ikan asin yang mereka jajakan.

Lapak-lapak Penjual ikan asin di pinggir Jalan Banda Aceh – Meulaboh
Gampong Pulot Kec. Leupung
         Dengan latar belakang keluarga menengah ke bawah, tempat tinggal berada di pesisir pantai yang merupakan wilayah rawan bencana alam, wajar saja jika masyarakat maupun siswa di daerah Leupung memiliki karakter yang “keras” dan “semau gue”. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya pribadi. Tugas saya yang utama adalah memotivasi mereka untuk semangat belajar dan melanjutkan ke pendidikan tinggi serta mendidik mereka menjadi generasi bangsa yang berjiwa luhur.

          Bagaimana pun juga, pendidikan itu sangat penting. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin baik juga perekonomian mereka. Ya, siswa-siswa saya yang berada di Leupung harus melanjutkan pendidikannya. Bukan hanya sampai pada tahap Sekolah Menengah Atas, minimal mereka harus duduk di bangku perguruan tinggi. Sangat disayangkan jika mereka berhenti sampai SMA dan menjadi nelayan atau penjual ikan asin.

          Wilayah ini sangat kaya dengan kekayaan alamnya, termasuk hasil laut dan hasil tambang. Ilmu yang mereka peroleh di SMA masih sangat dangkal untuk mengelola kekayaan alam tersebut. Untuk memanfaatkan serta mengolah Sumber Daya Alam di wilayah ini diperlukan Sumber Daya Manusia yang handal dan berkompeten. Tanpa itu, SDA yang kita punyai akan dikuasai oleh orang-orang hebat dari negara lain.

           Sayangnya, minat mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi sangat kurang. Kendalanya adalah orang tua mereka yang berprofesi sebagai nelayan dan penjual ikan asin tidak sanggup membiayai pendidikan mereka. Selain itu kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan sangat rendah. Menurut mereka, anak-anak mereka sudah memperoleh ijazah SMA saja sudah sangat cukup.

           Ini adalah secuil kisah tentang Leupung yang dapat saya tulis. Semoga member inspirasi untuk pembaca. Semangat mengabdi ^^



Leupung, 26 April 2013
11.19 a.m