Tampilkan postingan dengan label SM-3T. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SM-3T. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Februari 2014

Hari Kedua PPA PPG UNNES 2014

Assalamu'alaikum....

Selamat Malam Asrama 1 ^^

Alhamdulillah hari ini bisa pake wifi asrama ^^ Seneng banget rasanya.. yeyeyeyeyeyeeyeye :-)
Hari kedua PPA berjalan lancar... hari ini aku ngga terlalu konsen ke materi rasanya ngantuk banget >_< Soalnya tadi bangun kepagian. Pagi tadi sekitar pukul 04.30 aku terbangun oleh suara sirine krin kriiiiing kriiing... *kurang lebih sih gitu* Aku takut kayak yang di film2, ntar pintunya digedor-gedor, makanya aku buru2 bangun trus gosok gigi dan cuci muka lalu ambil air wudhlu dan shalat Subuh beramah. Setelah shalat subuh langsung antre mandi dan berangkat ke kampus untuk mengikuti PPA PPG UNNES 2014 ^^

Kamis, 27 Februari 2014

Hari Pertama PPA PPG UNNES 2014

Asrama 1 UNNES, 21:53
Ini malam pertama aku menginjakkan kaki sekaligus tidur di asrama 1 UNNES yang terletak di Sekar Gading. Karena ngga ada wifi dan modem pun sinyal-nya edge, terpaksa nulisnya harus offline J. Malam ini aku bakal nge-share sedikit cerita hari pertama PPA PPG UNNES 2014.

Senin, 24 Februari 2014

Registrasi PPG SM-3T Angaktan 2 di UNNES

Assalamu'alaikum...

Selamat Malam Senin ^^
Hari ini, aku dan temen-temen SM-3T Angkatan 2 melakukan registrasi PPG di Gedung Auditorium UNNES, Sekaran. Setelah 6 bulan berpisah bahkan ada yang 1,5 tahun ngga ketemu (Karena penempatan di Kabupaten berbeda), akhirnya hari ini kami dipertemukan di acara registrasi PPG SM-3T 2014 ^_^ Tadi sih sempet ngeliat ada temen-temen yang peluk-pelukan dan berlinang air mata.

Sabtu, 22 Februari 2014

Go Go PPG!!!

Akhirnya setelah nunggu hampir 6 bulan, tiba saatnya untuk PPG ^^ hehehehe
Ngomong-ngomong apa sih PPG itu? Ada yang belum tau ya~ PPG itu singkatan dari Pendidikan Profesi Guru. Jadi berdasarkan permendikbud nomor 87 tahun 2013 tentang PPG, untuk menjadi seorang guru, seorang sarjana pendidikan harus menempuh pendidikan profesi yang disebut PPG. Ya, kayak dokter gitu. Sebelum jadi dokter, mereka haus sekolah profesi dulu kan... Nah, guru juga. Katanya sih untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, entahlah ^^ Dan peraturan itu akan diberlakukan mulai tahun 2015, untuk info lengkapnya bisa baca di artikel ini. Kemendikbud Wajibkan Seluruh Guru Ikut PPG dan Pelamar CPNS Formasi Guru Wajib Punya Gelar Gr.

Selasa, 16 Juli 2013

Pantai dan Mercusuar Pulo Aceh... Amazing!

Setiba di Pulo Aceh, kami bermalam di desa Meulingge, tepatnya di SD Meulingge. Tempat ini berada di ujung, sepi banget. Penduduk yang tinggal di sini hanya sedikit. Selain itu di desa ini belum ada sinyal. Jadi saat bermalam di Meulingge, terpaksa kami harus puasa sms, telpon, dan internetan. Hmm... kasian ya temen yang ditempatkan di desa ini -_- ngga dapat sinyal, ngga ada warung, jalanpun belum diaspal. Masya Allah! Harus diacungi jempol. Keren banget bisa bertahan di daerah seperti ini selama setahun. Kalo saya mah udah nangis-nangis tiap hari... hehehe #cengeng!

Kamis, 04 Juli 2013

Go To Pulo Aceh...

Ada yang udah tau di mana Pulo Aceh itu? Yup! Pulo Aceh (Pulau Breuh) terletak di ujung barat bagian utara wilayah Indonesia. Pulo Aceh termasuk wilayah Kabupaten Aceh Besar dan merupakan daerah 3T (Terdepan, Terluar,dan Tertinggal) *serius*. Akses menuju Pulo Aceh juga susah. Karena saya belum pernah ke sana, dengar dari teman katanya harus pake perjalanan laut selama 3 jam dengan boat. Gilak!
Insya Allah hari ini saya mau dan teman-teman SM3T Aceh Besar mau mengadakan Rakorkab di Pulo Aceh. Hm.... pasti akan jadi perjalanan yang amazing! Secara saya belum pernah sekalipun menyebrang pulau menggunakan jalur laut. Dulu waktu SMA tour ke Bali saja saya ga ikut. Alasannya takut nyeberang laut. Padahal saat itu pakai kapal besar. Nah sekarang, mau ga mau saya harus nyeberang pulau pake boat kecil -____- pengennya sih ngga ikut. Tapi ini satu-satunya kesempatan saya untuk berkunjung ke Pulo Aceh. Masa tinggal di Aceh, khususnya Aceh Besar selama 1 tahun ga pernah menjejakkan kaki di Pulo Aceh. Sampai sana pasti penasaran ^_^ Alasan lain, pengen ngerasain gimana tinggal di Pulo Aceh, meskipun hanya 3 hari. Hehehe... Teman-teman yang tinggal di Pulo Aceh pasti keren banget!
Okeh... itu saja yang bisa saya share... nanti kalo sudah sampai sana dan pulang lagi ke darat, insya Allah saya share lagi cerita rakorkab di sana serta tentang keeksotisan Pulo Aceh ^__^
Doakan saya ya.. semoga perjalanan ke sana lancar, selamat sampai kembali lagi ke darat. Karena sekarang, anginnya masih kenceng. takutnya gelombang lautnya juga besar.

Kamis, 27 Juni 2013

Persiapan Seleksi SM3T

Mumpung lagi ngga ada kerjaan, cuap-cuap aja di blog ^_^ hehehe
Niatnya sih mau posting tentang adat pernikahan masyarakat Aceh tapi berhubung pakai komputer sekolah dan ga ada foto-foto yang mau saya upload, ga jadi deh ^_^ insya Allah next time ya~

Semakin mendekati hari penarikan SM3T rasanya waktu yang saya lewati berjalan lebih cepat. Jika di awal dia berjalan seperti seekor kura-kura, kini dia berjalan layaknya kuda (kuda jalannya cepet ga sih?). Yeah, only remaining 3 months ^_^ i have to enjoy my time here, whatever happens. Kesibukan seperti ini hanya saya dapatkan di tempat ini. Mungkin saja, hal itu akan membuat saya merasa rindu ketika saya pulang ke kampung halaman.
Jika ada yang bertanya, "Masih betah ga di sini?" atau "Sudah pengen pulang ya?", jawaban yang keluar adalah "Saya sudah pengen pulang ke Jawa". Ga mau munafik, tapi itulah yang saya rasakan. Kalo ada yang bertanya lagi, "Memang ga sedih berpisah dengan orang-orang di sini?". Jelas sedih dong tapi gimana lagi, udah kangen sama kampung halaman, kangen sama orang-orang tersayang yang ada di sana ^_^. Suatu saat nanti, saya pun akan merindukan orang-orang yang berada di sini.

Liat di web http://majubersama.dikti.go.id/, sekarang sudah dibuka kembali pendaftaran SM3T Tahap III. Menurut jadwal yang sudah direvisi, pendaftarannya sampai tanggal 15 Juli  mendatang. Hm... sepertinya tahun ini peminat program SM3T bertambah banyak, ga kayak pas Angkatan II (angkatan saya) hehehe. Semangat mereka pun lebih besar dibanding semangat saya dulu ketika mendaftar SM3T. Untuk mengikuti program SM3T hanya perlu modal SEMANGAT dan MENTAL yang KUAT. Kalo kita sudah punya dua hal itu, ngga akan jadi masalah lagi untuk mengabdi di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Beberapa teman saya bertanya tentang proses seleksi program SM3T. Mengenai proses seleksi program SM3T tidak terlalu ribet kok. Lengkapi dulu syarat-syarat yang telah tertulis di Web http://seleksi.dikti.go.id/sm3t/ . Jika berkas kita lengkap dan sesuai dengan prosedur yang tertulis, pasti lolos seleski administrasi (seleksi tahap I). Selanjutnya persiapkan diri untuk mengikuti tes online SM3T. Apa saja yang diperlukan saat tes online sudah pernah saya posting, silakan klik di sini. Tes online tidak terlalu sukar. Cukup mudah ^_^.

Jumat, 26 April 2013

Place of My Dedication, Leupung

      Senja di hari ke-12 bulan ke-10 tahun 2012, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya saya sampai di daerah pengabdian SM-3T, di kecamatan Leupung. Leupung merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Aceh Besar, yang menjadi daerah sasaran pelaksanaan program SM-3T. Wilayah Leupung pada umumnya terletak di pesisir pantai.


Pemandangan yang berada di sekitar jalan menuju kecamatan Leupung.
          Saya ditugaskan untuk mengabdi di SMA Negeri 1 Leupung, satu-satunya Sekolah Menengah Atas yang berada di Kecamatan Leupung. SMA Negeri 1 Leupung terletak di Jalan Banda Aceh – Meulaboh KM 18 Gampong Deah Mamplam, yang merupakan pintu gerbang masuk wilayah Leupung dari kota Banda Aceh. Sebelum tragedi Tsunami Aceh, sekolah ini terletak di pinggir pantai. Pasca Tsuanmi, sekolah direlokasikan di daerah perbukitan. Jumlah siswa di sekolah ini hanya 56 dengan 3 ruang kelas, yakni 17 siswa di kelas X, 19 siswa di kelas XI IPA, dan 20 siswa kelas XII IPA.

Gerbang Depan SMA Negeri 1 Leupung yang terletak di gampong Deah Mamplam Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar.
           Sebagian besar siswa yang belajar di SMA Negeri 1 Leupung sudah tidak mempunyai orang tua karena orang tua dan keluarga mereka menjadi korban keganasan Tsunami. Oleh sebab itu karakter dan motivasi yang mereka mereka miliki sangat rendah, tidak seperti anak-anak lainnya yang masih mempunyai keluarga yang membimbing dan memotivasi mereka. Tugas mendidik di wilayah yang seperti itu memang tidak mudah. Banyak tantangan yang harus saya hadapi. Misalnya, ketika saya sudah mempersiapkan materi yang akan saya diskusikan dengan siswa ternyata setelah sampai di kelas, siswa yang hadir hanya 5-7 orang. Ini salah satu hal yang membuat saya harus tetap bersabar dan selalu semangat dalam memberi ilmu untuk mereka.
Suasana ruang kelas saat akan belajar. Hanya ada 7 siswa dalam 1 ruangan.
         Siswa-sisiwi di SMA Negeri 1 Leupung sebagian besar memang mempunyai motivasi yang rendah terhadap kegiatan belajar. Namun di balik itu, mereka mempunyai bakat non akademik, salah satunya di bidang seni, yakni kesenian Rebana dan merangkai bunga.
Rangkaian bunga yang dibuat oleh para siswi kelas XII SMA 1 Leupung
           Rangkaian bunga yang mereka buat, kini berada di sudut ruang kantor guru. Sebagai hiasan sekaligus menunjukkan kepada tamu yang berkunjung ke SMA Negeri 1 Leupung, bahwa di sekolah yang terpencil ini memiliki siswi-siswi yang kreatif. Ya, soal merangkai bunga, siswi-siswi di SMA Negeri 1 Leupung memang jago. Rangkaian bunga di atas terbuat dari bekas gelas air mineral. Gelas air mineral tersebut dipotong-potong membentuk sebuah bunga, kemudian dilapisi cat. Mereka memang memiliki keterammpilan seni yang sangat baik. Memanfaatkan bekas gelas air mineral yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang sangat indah dan menarik.

Penampilan Grup Rebana SMA Negeri 1 Leupung saat Peringatan
Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Negeri 1 Leupung.
         Setelah melakukan latihan selama beberapa hari, akhirnya mereka bisa memberikan penampilan yang maksimal di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Negeri 1 Leupung. Mereka membawakan lagu Muhammad, Perdamaian, dan Jilbab Putih. Para tamu undangan, Bapak Ibu Guru, serta seluruh siswa memberikan apresiasi yang tinggi atas penampilan mereka.
         Hal ini menyadarkan saya, bahwa setiap anak memang mempunyai bakat yang berbeda-beda. Tidak semua anak memiliki minat dan bakat dalam bidang akademik, ada beberapa di antara mereka yang lebih menyukai seni, olah raga, ataupun bidang lainnya. Apalagi kondisi lingkungan di Leupung, yang dekat dengan pesisir, memberikan pengaruh terhadap bakat dan minat mereka. Sebagai pendidik, saya tidak bisa memaksa mereka HARUS BISA atau HARUS SUKA terhadap pelajaran di sekolah. Yang bisa saya lakukan adalah memberikan mereka motivasi untuk terus belajar.    
          Beberapa hari yang lalu saya main ke rumah salah satu siswi kelas XII yang belajar di SMA Negeri 1 Leupung. Kebetulan, hari itu hari Minggu, dia sedang membantu orang tuanya menjajakan ikan asin di pinggir jalan. Saya pun pergi ke lapak orang tuanya (saat itu di sana hanya ada Ibu dia yang sedang membersihkan ikan teri yang sudah kering), saya berbincang-bincang dengan si Ibu. Berdasarkan informasi yang saya terima, di daerah Leupung sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan dan penjual hasil laut. Jika sang suami bertugas mencari ikan dan membersihkan ikan, maka sang istri dan anak mereka mempunyai tugas menjemur ikan asin dan menjajakannya di lapak-lapak pinggir jalan. Lapak ikan asin ini buka sertiap hari dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 22.00. Hari Minggu adalah hari keberuntungan mereka, karena banyak penduduk kota berwisata di Pantai Leupung dan mampir membeli ikan asin yang mereka jajakan.

Lapak-lapak Penjual ikan asin di pinggir Jalan Banda Aceh – Meulaboh
Gampong Pulot Kec. Leupung
         Dengan latar belakang keluarga menengah ke bawah, tempat tinggal berada di pesisir pantai yang merupakan wilayah rawan bencana alam, wajar saja jika masyarakat maupun siswa di daerah Leupung memiliki karakter yang “keras” dan “semau gue”. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya pribadi. Tugas saya yang utama adalah memotivasi mereka untuk semangat belajar dan melanjutkan ke pendidikan tinggi serta mendidik mereka menjadi generasi bangsa yang berjiwa luhur.

          Bagaimana pun juga, pendidikan itu sangat penting. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin baik juga perekonomian mereka. Ya, siswa-siswa saya yang berada di Leupung harus melanjutkan pendidikannya. Bukan hanya sampai pada tahap Sekolah Menengah Atas, minimal mereka harus duduk di bangku perguruan tinggi. Sangat disayangkan jika mereka berhenti sampai SMA dan menjadi nelayan atau penjual ikan asin.

          Wilayah ini sangat kaya dengan kekayaan alamnya, termasuk hasil laut dan hasil tambang. Ilmu yang mereka peroleh di SMA masih sangat dangkal untuk mengelola kekayaan alam tersebut. Untuk memanfaatkan serta mengolah Sumber Daya Alam di wilayah ini diperlukan Sumber Daya Manusia yang handal dan berkompeten. Tanpa itu, SDA yang kita punyai akan dikuasai oleh orang-orang hebat dari negara lain.

           Sayangnya, minat mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi sangat kurang. Kendalanya adalah orang tua mereka yang berprofesi sebagai nelayan dan penjual ikan asin tidak sanggup membiayai pendidikan mereka. Selain itu kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan sangat rendah. Menurut mereka, anak-anak mereka sudah memperoleh ijazah SMA saja sudah sangat cukup.

           Ini adalah secuil kisah tentang Leupung yang dapat saya tulis. Semoga member inspirasi untuk pembaca. Semangat mengabdi ^^



Leupung, 26 April 2013
11.19 a.m