Minggu, 19 Mei 2013

Kenapa Sekarang Jadi Pelupa? Part I

Akhir-akhir ini saya jadi orang yang pelupa. Padahal usia saya masih trebilang muda, 22 tahun lebih  8 bulan. xixixixi adakah yang ngiri? ツ Ternyata kasus pelupa seperti ini tidak hanya dijumpai pada orang-orang yg sudah berusia lanjut tetapi juga pada anak muda seperti saya, xixixixi ᄽ⏝⏠
Kemarin, sebelum berangkat sekolah, saya cari kunci ruangan saya ke mana-mana. Akhirnya  saya nyerah, saya kira kuncinya masih tergantung di pintu dan saya pun buru-buru ke sekolah karena sudah telat.Sesampai di sekolah, ternyata kuncinya ga ada, dan itu membuat saya ga bisa masuk ke dalam ruangan, padahal saya harus buat surat untuk siswa saya ●︿● Tiba-tiba ada sms masuk dari adik yang punya rumah kontrakan, "Kak, ini kuncinya di bawah hansaplas.." Saya baru ingat, Hari Kamis, saya taruh di atas meja lipat õ.O Padahal nih, sebelum mandi, saya internetan pake laptop di atas menja lipat. Anehnya,, saya ngga liat. Masya Allah...!
Masih kejadian kemarin, karena batere HP saya low, saya bawa charger ke sekolah. Saya mampir ke rumah penjaga sekolah, di sana saya buka tas, buat ngecek adakah kunci ruangan saya di dalam tas dan sepertinya saya mengeluarkan charger HP. Setelah itu adik yang punya kontrakan datang, nganterin kunci untuk saya. Akhirnya saya bisa masuk. Setelah di ruangan, saya cari charger HP, dan ga ketemu. Feeling saya, charger HP terjatuh di rumah penjaga sekolah, karena seingat saya, saya sudah masukin charger ke tas saya. Niatnya mau ngambil, tapi ada Kepsek, jadi ga bisa keluar. Terpaksa deh HP tai tit tut mulu.. ↯⎵↯ Trus, tiba-tiba lagi, saya ingat ada surat undangan pengiriman calon maba dari UNSYIAH dan saya lupa surat itu sekarang di mana. Saya cari-cari di tumpukan kertas, di semua laci meja, di rak pun saya cari, ngga ketemu. Hufth... Charger HP lupa, sekarang surat juga lupa diletakkan di mana ●︿● Kenapa sekarang jadi pelupa seperti ini. Tarik nafas panjang... rileks... dan cari lagi pelan-pelan. 1 menit... 2 menit.. akhirnya  suratnya ketemu. Alhamdulillah! Lalu saya berikan ke Kepsek.
Sepulang sekolah, saya lupa mampir ke rumah penjaga sekolah. Saya langsung pulang ke rumah. Aissh... charger masih di sana. Mau balik ke sekolah lagi udah males. Akhirnya terpaksa nyari USB, USB HP yang satunya hilang ntah ke mana, saya cari USB HP lain yang clubangnya sama. Ketemu juga. Jadi terpaksa saya charger HP pake USB ↯⎵↯ menderita banget deh sama yg namanya lupa!
Malamnya saya pake laptop, internetan. Ntah kenpa tiba-tiba mata saya tertuju pada sekumpulan kabe2 di tas mickey mouse. ⊙.◎ ternyata charger saya di sekumpulan kabel  itu pemirsa ⊙.◎ Trus, yang saya bawa di tas seblum ke sekolah itu apa? Apakah itu hanya halusinasi saya??? aigooo..
Terakhir nih, adik yg punya kontrakan minta di-editin tugasnya. Tugasnya sudah dikopi ke flashdisk saya, saya tanya ke dia, "Mana flasdisknya?", dia jawab, "Tuh kak, udah nancep." Ya Allah.. padahal kan, baru 5 menit yg lalu dia nyerahin flashdisknya untuk saya dan sudah saya pasang. Tp kenapa lupa... What happen to me... ╥﹏╥
Dan pagi ini saya searching di berbagai web, tentang penyebab seseorang itu menjadi pelupa. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi "penyakit lupa". (Lanjut di Postingan berikutnya ya  Kenapa Sekarang Jadi Pelupa? Part II)


Sabtu, 18 Mei 2013

Pelukan Ibu

Pelukan yang paling hangat, yang paling nyaman, yang paling lembut, yang paling menenangkan adalah pelukan seorang Ibu. Pelukan Ibu bagaikan obat saat anaknya sakit. Pelukan Ibu itu seperti selimut yang mampu menghangatkan buah hatinya. Sungguh rindu dengan pelukan Ibu ^_^
Kemarin hari Jum'at, Ibu Penjaga Sekolah (saya biasa memanggil dia Kakak) meminta saya untuk mengantar dia memeriksakan anak keduaya (usia 1,5 tahun) ke Puskesmas. Saat di puskesmas, si dedek dipeluk dalam gendongan sang Ibu. Si dedek keliatan sangaaaaaaat nyaman. Dia ngga rewel lagi, padahal waktu dia didudukan di kursi, dia nangis terus. Jadi teringat sebuah kalimat di buku yang pernah saya baca, "Pelukan yang paling nyaman adalah Ibu". ^_^
Sewaktu kita kecil, ketika kita sakit pasti yang kita cari adalah Ibu. Dan Ibu tidak pernah membiarkan kita merasakan sakit sendirian. Sesibuk apa pun Ibu, dia akan selalu berada di sisi buah hatinya yang sedang sakit. Ibu rela tidak tidur semalaman hanya untuk menjaga anaknya. Apapun dilakukannya untuk kesembuhan sang buah hati. Begitu sayangnya dia dengan "amanah" yang dititipkan Allah.
Meskipun saya belum menjadi seorang Ibu, tapi saya bisa merasakan perasaan seorang Ibu terhadap anaknya. Karena sebagai seorang anak, saya pun merasakan kasih sayang dari Ibu saya. BEtapa beratnya pengorbanan beliau untuk membahagiakan saya, sekalipun harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri. :'(
Saya pun sangat berharap, suatu saat saya mampu menjadi seorang Ibu yang HEBAT, seperti Ibu saya dan Para Ibu di dunia. Yang selalu memberikan pelukan hangat untuk buah hati saya, yang selalu bisa menenangkan dia di saat dia butuh ketenangan, yang selalu membuat dia merasa nyaman, dan tentunya yang mampu mendidik dia menjadi Makhluk-NYA yang berakhlaq baik.. aamiin ^_^
 

Selasa, 14 Mei 2013

Pengen Nyerah...!!!

Hari ini, saya mengadakan ulangan harian materi Ruang Dimensi Tiga untuk kelas X di SMAN 1 Leupung. Soal ulangan kali ini sengaja saya buat berbeda dari soal-soal ulangan harian sebelumnya. Untuk ulangan harian sebelumnya, soal-soalnya saya buat paket, kadang sampai 8 paket. Tapi untuk ulangan kali ini saya buat 1 paket soal, yang saya tampilkan di slide. Tiap slide ada satu soal. Untuk mengerjakan soal tersebut saya beri waktu 5 - 10 menit.
Pada saat persiapan ulangan harian, ada dua siswa yang selalu bikin ulah. Mereka kembar identik. Bukan hanya sama di fisik saja, sikap mereka berdua pun sama-sama membangkang guru. Karena ulah dia, saya jadi kesel. Siapa yang ga kesel, saat saya (sebagai pendidik) sedang berbicara di depan kelas, mereka ribut sendiri dan tidak menghormati keberadaan saya. Mungkin karena faktor usia saya yang juga masih "labil", saya pun cepat sekali jengkel. Saat itu saya suruh mereka keluar. Mereka ga dengar, tetap saja duduk di bangku mereka. Saya perintahkan sekali lagi, mereka juga masih tetap diam. Akhirya saya teriak di depan mereka dengan suara keras (sangat keras), "KELUAAAAAAR". Apa yang terjadi? Mereka masih tetap duduk di bangkunya. Seolah-olah mereka tidak pernah berbuat salah.
Karena hal itu, saya bicara dengan teman-teman mereka bahwa saya tidak akan masuk kelas mereka jika si kembar berada di dalam kelas. Sakit hati. Saya sangat sakit hati trehadap mereka yang tidak punya sikap sopan santun, mengahargai orang yang lebih tua, dan tentu saja selalu membantah perintah serta tidak mau mengikuti peraturan yang ada. Saya tau, sikap saya yg seperti ini kurang tepat bahkan salah. Tapi saya juga ngga ngerti harus bagaimana menangani si kembar yang sikapnya selalu seperti itu dengan guru-guru. -___-
Setelah kasus si kembar, ternyata anak-anak kelas X pada ga bisa ngerjain soal ulangan yang saya berikan. Semuanya dapat nilai dibawah 50. Kesel pake BANGET! Padahal soal yang saya berikan adalah soal yang sangat sangat dan sangaaaaaaaaaaaaaat gampang!!! Semua soal ada di catatan mereka dan sudah saya terangkan. Bedanya hanya pada angka. Kesel rasanya melihat mereka ngga bisa mengerjakan soal dari saya. Apa saya yang ngga bisa memberi penjelasan ke mereka? Saya merasa GAGAL TOTAL. Sebagai seorang pendidik tentunya sangat sedih melihat nilai mereka yang sangat jelek dan melihat karakter mereka yg masih jauh dari kata "baik".
Menjadi seorang pendidik adalah impian saya. Namun, jika seperti ini keadaannya, rasanya ingin menyerah. Ya Allah...! Apakah saya harus menghentikan impian saya untuk menjadi seorang pendidik? Saya ngga sanggup... :'(

Minggu, 12 Mei 2013

PURA-PURA

Kepura-puraan itu ngga selamanya jelek kok. Terkadang, pura-pura itu bisa menyelamatkan sesuatu yang sangat berarti untuk kehidupan kita. Kepura-puraan juga bisa membuat orang lain bahagia. Itu sih pendapat saya tentang "Pura-Pura".
Berpura-pura sebenarnya membuat "si pemeran" merasa sakit. Kok bisa? Ya iya dong, berpura-pura berarti membohongi diri sendiri kan? Berpura-pura itu ibarat memerankan tokoh lain yang sangat bertentangan dengan "si pemeran". Jelas sakit lah, siapa juga yang mau membohongi diri sendiri. Dibohongin orang lain aja udah kesel, nah ini yg membohongi diri sendiri. Hm.. pengecut? Ya, bisa dibilang seperti itu, seseorang yg berpura-pura itu bagaikan seorang pengecut yg ngga mau menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Seperti yang sudah saya tulis, "Terkadang, pura-pura itu bisa menyelamatkan sesuatu yang sangat berarti untuk kehidupan kita". Ada saatnya, kita harus berpura-pura. Misalnya saja, berpura-pura bahagia di hadapan orang-orang yang kita sayangi, meskipun kenyataannya saat itu kita sedang sedih ataupun kesel. Demi orang-orang yg kita sayangi, kita memerankan tokoh lain yang sangat bahagia, dengan memberikan senyum kepada orang-orang di sekitar kita.
Tapi saya ngga tau, apakah kepura-puraan yang menyakitkan ini juga bisa membuat orang yang mengetahuinya juga sakit. Kalau kejadiannya seperti itu, haruskah berpura-pura di hadapannya?

Kamis, 09 Mei 2013

Bagaimana Langit-MU di Jawa?

Bagimana langit-Mu di Jawa?
Masihkah ia sama dengan saat-saat aku menghabiskan waktuku di sana?
Masihkah ia terlihat sedih saat aku memandangnya sebelum aku meninggalkannya?
Masihkah ia terlihat cerah saat aku tersenyum menatapnya?

Aku merindukan langit-MU di Jawa...
Yang selalu membuatku merasa tenang di bawahnya
Yang selalu membuatku merasa nyaman di bawahnya
Yang selalu membuatku merasa aman di bawahnya

Bagaimana langit-MU di Jawa?
Samakah dengan langit-MU di sini...
Menyengatkah seperti langit-MU di sini...
Kejamkah seperti langit-MU di sini...